9. Apa Yang Dicari?
13.11 WIB
110 km dari Banyuwangi.
Lepas dari kota Probolinggo, perjalanan terasa lebih menyenangkan. Walaupun masih dipenuhi truk logistik dan bus yang akan menuju Bali, namun jalanan ini terasa lebih lancar karena tidak terlalu banyak kendaraan warga lokal.
Yatra mengendarai motornya sedikit perlahan saat ia melintasi wilayah PLTU Paiton— pembangkit listrik raksasa yang menyuplai listrik pulau Jawa dan Bali.. Cerobong- cerobong raksasa nya berdiri megah di tepi laut, dengan struktur baja rumit dan industrial.
Yatra tak pernah tak merasa takjub saat melihat tempat ini.
Setelahnya, ia melewati wilayah Banyuputih. Melintasi jalur yang membelah hutan mangroove. Beberapa monyet berlarian menuju pohon saat Yatra melintas dengan suara stereo motornya.
Dan beberapa lama kemudian, ia tiba di wilayah Pasir Putih— sebelum memasuki kota Situbondo. Di sisi utara sepanjang jalan ini adalah pantai berpasir putih yang nampak indah, dengan banyak pepohonan kelapa.
Sampai di sini, Yatra memutuskan untuk berhenti. Matahari bersinar begitu teriknya.
Sudah hampir delapan jam ia berkendara non-stop. Matanya terasa panas, punggung dan lengannya pun berkata hal yang sama.
Selain itu, ia perlu mengistirahatkan mesin motor scramblernya.
Yatra melambatkan motornya menuju sisi kiri jalan, lalu ia berhenti di sebuah warung kecil yang ada di sana.
Warung itu nampak sepi. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang di cat putih. Sebuah banner pudar bertuliskan ES DEGAN, KOPI dan INDOMIE menyambut Yatra.
"Kopi Pak. Pahit," Yatra menunjuk sebuah bangku bambu di belakang warung, di bawah naungan pohon ketapang. Dari situ, ia bisa melihat langsung pemandangan pantai utara. "Sama Indomie satu."
Si bapak pemilik warung mengangguk, dan segera mempersiapkan pesanan tamunya.
Yatra merebahkan dirinya di bangku, memejamkan matanya. Ia membiarkan dirinya berbaring, menikmati debur ombak dan desau angin pantai. Dedaunan di atasnya bergerak- gerak, membuat bayang samar di wajah Yatra.
Sangat kontras dengan deru mesin dan suara klakson yang ia dengar sedari tadi.
Damai.
Yatra meraih ponselnya sambil menunggu pesanannya datang. Ia pun membuka grup WA kantor yang terdapat 122 pesan tak terbaca.
Grup WA khusus divisi Kredit Analis yang bernama:
ANALIS - AHLINYA ANAL
Nama grup ini adalah usulan Bayu, dengan logika seperti ini:
-gitaris: ahli bermain gitar
-vokalis: ahli berolah vokal
-analis: ???
Nama grup yang agak kontroversial dan rawan dipanggil HRD jika ketahuan.
Nitya dan Santi adalah yang paling tegas menolak usulan tersebut. Namun Yatra sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di divisi Analis, memutuskan nama itu sebagai nama grup mereka.
Yatra membaca percakapan antara Bayu, Nitya dan Santi yang begitu heboh dengan perjalanan liburan mereka di Bali. Mereka berangkat subuh tadi menggunakan pesawat— dan kini sudah tiba di villa sewaan mereka.
Santi: [mengirim foto interior kamar] bagus banget kamarnya. Ngadep laut nggak sih?
Nitya: Besok bikin video estetik yuk.
Bayu: [mengirim video dirinya berbaring di kasur, memeluk Riski sambil berpose najis] @Yatra kasurnya empuk banget. Enak buat ngencuk
Santi: bajingan
Nitya: [mengirim video mereka berempat yang sedang berpesta di pool villa. Dengan musik hingar. Kerat botol bir. Dan bakaran sosis.] @Yatra, sayang banget kamu gak bisa ikut. Kamu have fun juga di rumah ya.
Bayu: Life is short Broo!!! Mana ini admin grup suaranya?
Yatra hanya tersenyum melihat rekan- rekan kantornya yang nampak begitu lepas menikmati long weekend.
Tak perlu membuka email.
Tak ada spreadsheet.
Hanya ada kebebasan masa muda.
Yatra: @Nitya thanks. Enjoy yours.
Yatra: @Bayu ntar malem bikinin video pas kamu ngencuk Riski ya!! [mengirim stiker WA pria jomok]
Nitya: Nggak peduli kamu head analis ya. Kalo aku admin grup ini udah ku kick beneran.
Santi: Udah nama grup rusak. Membernya gini amat.
Yatra bangkit dari berbaring, menatap kejauhan. Horison luas tak terbatas, dengan awan tipis yang menjadi pemisah antara laut dan langit. Layar- layar kapal cadik nelayan seolah mewarnai latar biru tersebut.
Ia selalu berpikir bahwa sukses itu bergerak seperti garis grafik yang menanjak.
Karir yang terus meningkat.
Tabungan yang terus bertambah.
Tapi grafik yang menanjak, berarti tak memiliki batas. Nilainya akan terus seiring dengan X dan Y yang semakin besar. Pengorbanan. Tuntutan.
Jika kita terus mengejar grafik yang menanjak, kita sendiri yang akan kelelahan untuk memenuhi nilai X dan Y.
Tapi di sini, saat Yatra melihat ombak Pasir Putih yang mengalun pelan, ia mulai bertanya.
Kapan terakhir ia bisa duduk tenang seperti ini?
Kapan terakhir ia bisa duduk diam, tak melakukan apa- apa dan hanya meresapi apa yang ada di hadapannya?
Rasanya, ia ingin kembali bertelanjang kaki menginjak rumput, bermain bola di lapangan depan rumah.
Bermain lumpur basah saat Bapak membajak tanah.
Atau berlarian saat ibu mengejar membawa ranting menyuruhnya pulang.
"Silakan, Mas," pemilik warung datang menata sepiring indomie dengan telur dan sayur, juga segelas kopi hitam.
Yatra segera menyisip kopinya panas- panas. Seketika itu rasa pahit pekat membangunkannya. Ini yang ia butuhkan untuk melanjutkan perjalanan.
Yatra pun segera menyantap makanannya.
Ia tak ingin berlama- lama di sini.
Masih ada dua jam perjalanan lagi sebelum ia tiba di rumah.
Yatra ingin segera bertemu Bapak.
110 km dari Banyuwangi.
Lepas dari kota Probolinggo, perjalanan terasa lebih menyenangkan. Walaupun masih dipenuhi truk logistik dan bus yang akan menuju Bali, namun jalanan ini terasa lebih lancar karena tidak terlalu banyak kendaraan warga lokal.
Yatra mengendarai motornya sedikit perlahan saat ia melintasi wilayah PLTU Paiton— pembangkit listrik raksasa yang menyuplai listrik pulau Jawa dan Bali.. Cerobong- cerobong raksasa nya berdiri megah di tepi laut, dengan struktur baja rumit dan industrial.
Yatra tak pernah tak merasa takjub saat melihat tempat ini.
Setelahnya, ia melewati wilayah Banyuputih. Melintasi jalur yang membelah hutan mangroove. Beberapa monyet berlarian menuju pohon saat Yatra melintas dengan suara stereo motornya.
Dan beberapa lama kemudian, ia tiba di wilayah Pasir Putih— sebelum memasuki kota Situbondo. Di sisi utara sepanjang jalan ini adalah pantai berpasir putih yang nampak indah, dengan banyak pepohonan kelapa.
Sampai di sini, Yatra memutuskan untuk berhenti. Matahari bersinar begitu teriknya.
Sudah hampir delapan jam ia berkendara non-stop. Matanya terasa panas, punggung dan lengannya pun berkata hal yang sama.
Selain itu, ia perlu mengistirahatkan mesin motor scramblernya.
Yatra melambatkan motornya menuju sisi kiri jalan, lalu ia berhenti di sebuah warung kecil yang ada di sana.
Warung itu nampak sepi. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang di cat putih. Sebuah banner pudar bertuliskan ES DEGAN, KOPI dan INDOMIE menyambut Yatra.
"Kopi Pak. Pahit," Yatra menunjuk sebuah bangku bambu di belakang warung, di bawah naungan pohon ketapang. Dari situ, ia bisa melihat langsung pemandangan pantai utara. "Sama Indomie satu."
Si bapak pemilik warung mengangguk, dan segera mempersiapkan pesanan tamunya.
Yatra merebahkan dirinya di bangku, memejamkan matanya. Ia membiarkan dirinya berbaring, menikmati debur ombak dan desau angin pantai. Dedaunan di atasnya bergerak- gerak, membuat bayang samar di wajah Yatra.
Sangat kontras dengan deru mesin dan suara klakson yang ia dengar sedari tadi.
Damai.
Yatra meraih ponselnya sambil menunggu pesanannya datang. Ia pun membuka grup WA kantor yang terdapat 122 pesan tak terbaca.
Grup WA khusus divisi Kredit Analis yang bernama:
ANALIS - AHLINYA ANAL
Nama grup ini adalah usulan Bayu, dengan logika seperti ini:
-gitaris: ahli bermain gitar
-vokalis: ahli berolah vokal
-analis: ???
Nama grup yang agak kontroversial dan rawan dipanggil HRD jika ketahuan.
Nitya dan Santi adalah yang paling tegas menolak usulan tersebut. Namun Yatra sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di divisi Analis, memutuskan nama itu sebagai nama grup mereka.
Yatra membaca percakapan antara Bayu, Nitya dan Santi yang begitu heboh dengan perjalanan liburan mereka di Bali. Mereka berangkat subuh tadi menggunakan pesawat— dan kini sudah tiba di villa sewaan mereka.
Santi: [mengirim foto interior kamar] bagus banget kamarnya. Ngadep laut nggak sih?
Nitya: Besok bikin video estetik yuk.
Bayu: [mengirim video dirinya berbaring di kasur, memeluk Riski sambil berpose najis] @Yatra kasurnya empuk banget. Enak buat ngencuk
Santi: bajingan
Nitya: [mengirim video mereka berempat yang sedang berpesta di pool villa. Dengan musik hingar. Kerat botol bir. Dan bakaran sosis.] @Yatra, sayang banget kamu gak bisa ikut. Kamu have fun juga di rumah ya.
Bayu: Life is short Broo!!! Mana ini admin grup suaranya?
Yatra hanya tersenyum melihat rekan- rekan kantornya yang nampak begitu lepas menikmati long weekend.
Tak perlu membuka email.
Tak ada spreadsheet.
Hanya ada kebebasan masa muda.
Yatra: @Nitya thanks. Enjoy yours.
Yatra: @Bayu ntar malem bikinin video pas kamu ngencuk Riski ya!! [mengirim stiker WA pria jomok]
Nitya: Nggak peduli kamu head analis ya. Kalo aku admin grup ini udah ku kick beneran.
Santi: Udah nama grup rusak. Membernya gini amat.
Yatra bangkit dari berbaring, menatap kejauhan. Horison luas tak terbatas, dengan awan tipis yang menjadi pemisah antara laut dan langit. Layar- layar kapal cadik nelayan seolah mewarnai latar biru tersebut.
Ia selalu berpikir bahwa sukses itu bergerak seperti garis grafik yang menanjak.
Karir yang terus meningkat.
Tabungan yang terus bertambah.
Tapi grafik yang menanjak, berarti tak memiliki batas. Nilainya akan terus seiring dengan X dan Y yang semakin besar. Pengorbanan. Tuntutan.
Jika kita terus mengejar grafik yang menanjak, kita sendiri yang akan kelelahan untuk memenuhi nilai X dan Y.
Tapi di sini, saat Yatra melihat ombak Pasir Putih yang mengalun pelan, ia mulai bertanya.
Kapan terakhir ia bisa duduk tenang seperti ini?
Kapan terakhir ia bisa duduk diam, tak melakukan apa- apa dan hanya meresapi apa yang ada di hadapannya?
Rasanya, ia ingin kembali bertelanjang kaki menginjak rumput, bermain bola di lapangan depan rumah.
Bermain lumpur basah saat Bapak membajak tanah.
Atau berlarian saat ibu mengejar membawa ranting menyuruhnya pulang.
"Silakan, Mas," pemilik warung datang menata sepiring indomie dengan telur dan sayur, juga segelas kopi hitam.
Yatra segera menyisip kopinya panas- panas. Seketika itu rasa pahit pekat membangunkannya. Ini yang ia butuhkan untuk melanjutkan perjalanan.
Yatra pun segera menyantap makanannya.
Ia tak ingin berlama- lama di sini.
Masih ada dua jam perjalanan lagi sebelum ia tiba di rumah.
Yatra ingin segera bertemu Bapak.
Other Stories
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Membabi Buta
Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Kala Kisah Menjadi Cahaya
seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...
Free Mind
“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...